Archive for September, 2009

h1

Petani dan Anak Kecil

12 September 2009

“Aku harus ke sawah untuk bertani.”Begitulah pemikiran seorang petani setiap hari. Ya, sebagai petani, bertani adalah hal yang wajib dilakukan untuk dapat bertahan hidup. Begitu pula pemikiran seorang petani dari desa Ambruk. Ia petani yang baik hati dan suka menolong. Ia sangat senang bersenda gurau dengan petani lainnya di sawah.

Di siang yang terik, ia bermaksud untuk istirahat sejenak dan menikmati bekal yang ia bawa dari rumah. Selayaknya petani, tak ada meja ataupun kursi untuk menikmati makanan atau untuk beristirahat. Hanya anyaman rotan yang menjadi alas dari gubuk yang dapat ia gunakan untuk beristirahat. Ia pun duduk sendirian di gubuk itu, teman-temannya yang lain masih bekerja di sawah.

Saat ia sedang menikmati bekalnya, tiba-tiba datang seorang anak kecil. Anak kecil itu menangis seperti kehilangan sesuatu. Petani yang melihatnya pun mendekatinya. Anak itu menangis dan menceritakan alasannya menaangis kepada petani itu. Ternyata anak itu menangis karena mainan mobil-mobilannya yang terbuat dari kulit jeruk bali rusak. Petani pun membantu anak itu membetulkan mobil-mobilannya. Beberapa saat kemudian, mobil-mobillan itu telah kembali baik & dapat digunakan lagi. Anak itu sangat senang, begitu pula petani. Lalu anak itu memohon pada petani agar ia dapat tinggal bersama petani. Petani hidup sebatang kara, tak ada yang menemaninya di rumah. Akhirnya petani pun membawa anak itu ke rumahnya dan tinggal bersamanya. Petani menjaga anak itu seperti anaknya sendiri.

2 minggu berselang, ketika petani pulang ke rumahnya untuk beristirahat dan bermain bersama anak itu, ia bingung karena ia tak menemukan siapa siapa di rumah. Petani hanya menemukan secari kertas dengan goresan pensil anak kecil. “Petani, mobilku rusak lagi. Aku mencari orang yang bisa membetulkan mobilku, tapi aku tidak mau petani yang membetulkannya. Aku mau mencari orang lain yang bisa membetulkan mobilku ini.” Petani pun bingung, sedih, dan kecewa. Anak yang sudah ia rawat dengan sepenuh hati ternyata tidak mengerti betapa sayangnya petani kepadanya meski baru tinggal bersama tidak terlalu lama. Petani pun tak bisa berbuat apa apa selain merelakan si anak pergi mencari tempat baru di dunia yang tak menjanjikan apa apa ini. “Jangan pergi terlalu jauh nak, agar kamu dapat kembali ke tempat yang tepat saat kamu mengerti kelak.”