Posts Tagged ‘Story’

h1

Xinloi with Its New Face

5 January 2010

Butuh waktu 5 hari bagi gw mengumpulkan niat untuk melakukan posting pertama di tahun 2010. Hari in gw memutuskan mengganti theme blog gw yang usang ini. Menurut gw dengan theme ini blog gw terlihat lebih segar dengan segala kesederhanaannya.

Tak banyak hal yang dapat gw tulis di sini. Hari pertama sekolah sejak libur panjang dicekoki dengan wanti-wanti akan datangnya judgement day (baca: ujian nasional) yang semakin dekat. Membuat pikiran gw seperti dalam I Think Very Big kembali bergejolak walau dengan intensitas yang tak terlalu besar. Jelas hal itu membuat hari ini tidak cukup baik untuk dinikmati, ditambah insiden bunyinya HP gw akibat MP3 yang memutar lagu Jatuh Bangun by Tiket (sebelumnya dipopulerkan oleh Maggy Z) yang dipesan oleh Eduardus Pandik dengan sendirinya dari kantong gw (mungkin terpencet-pencet dalam kantong karena HP gw tidak dalam kondisi lock saat itu). Untungnya insiden memalukan itu dapat ditolerir oleh guru yang bersangkutan.

Semoga hari-hari berikutnya lebih baik dari hari ini. Sampai jumpa lain waktu.

h1

Petani dan Anak Kecil

12 September 2009

“Aku harus ke sawah untuk bertani.”Begitulah pemikiran seorang petani setiap hari. Ya, sebagai petani, bertani adalah hal yang wajib dilakukan untuk dapat bertahan hidup. Begitu pula pemikiran seorang petani dari desa Ambruk. Ia petani yang baik hati dan suka menolong. Ia sangat senang bersenda gurau dengan petani lainnya di sawah.

Di siang yang terik, ia bermaksud untuk istirahat sejenak dan menikmati bekal yang ia bawa dari rumah. Selayaknya petani, tak ada meja ataupun kursi untuk menikmati makanan atau untuk beristirahat. Hanya anyaman rotan yang menjadi alas dari gubuk yang dapat ia gunakan untuk beristirahat. Ia pun duduk sendirian di gubuk itu, teman-temannya yang lain masih bekerja di sawah.

Saat ia sedang menikmati bekalnya, tiba-tiba datang seorang anak kecil. Anak kecil itu menangis seperti kehilangan sesuatu. Petani yang melihatnya pun mendekatinya. Anak itu menangis dan menceritakan alasannya menaangis kepada petani itu. Ternyata anak itu menangis karena mainan mobil-mobilannya yang terbuat dari kulit jeruk bali rusak. Petani pun membantu anak itu membetulkan mobil-mobilannya. Beberapa saat kemudian, mobil-mobillan itu telah kembali baik & dapat digunakan lagi. Anak itu sangat senang, begitu pula petani. Lalu anak itu memohon pada petani agar ia dapat tinggal bersama petani. Petani hidup sebatang kara, tak ada yang menemaninya di rumah. Akhirnya petani pun membawa anak itu ke rumahnya dan tinggal bersamanya. Petani menjaga anak itu seperti anaknya sendiri.

2 minggu berselang, ketika petani pulang ke rumahnya untuk beristirahat dan bermain bersama anak itu, ia bingung karena ia tak menemukan siapa siapa di rumah. Petani hanya menemukan secari kertas dengan goresan pensil anak kecil. “Petani, mobilku rusak lagi. Aku mencari orang yang bisa membetulkan mobilku, tapi aku tidak mau petani yang membetulkannya. Aku mau mencari orang lain yang bisa membetulkan mobilku ini.” Petani pun bingung, sedih, dan kecewa. Anak yang sudah ia rawat dengan sepenuh hati ternyata tidak mengerti betapa sayangnya petani kepadanya meski baru tinggal bersama tidak terlalu lama. Petani pun tak bisa berbuat apa apa selain merelakan si anak pergi mencari tempat baru di dunia yang tak menjanjikan apa apa ini. “Jangan pergi terlalu jauh nak, agar kamu dapat kembali ke tempat yang tepat saat kamu mengerti kelak.”

h1

Lompatan Si Belalang

15 December 2008

Di suatu hutan, hiduplah seekor belalang muda yang cerdik. Belalang muda ini adalah belalang yang lompatannya paling tinggi diantara sesama belalang yang lainnya. Belalangmuda ini sangat membanggakan kemampuan lompatannya ini. Sehari-harinya belalang tersebut melompat dari atas tanah ke dahan-dahan pohon yang tinggi, dan kemudian makan daun-daunan yang ada di atas pohon tersebut. Dari atas pohon tersebut belalang dapat melihat satu desa di kejauhan yang kelihatannya indah dan sejuk. Timbul satu keinginan di dalam hatinya untuk suatu saat dapat pergi kesana.
Read the rest of this entry ?

h1

Finally It’s Done!

11 December 2008

Akhirnya hari ini datang juga! Setelah seminggu berkutat dengan buku-buku ga jelas, sekarang gw bebas, yeahhaaaa!!! Masalah nilai belakangan aja deh soalnya pasti ancur, yang penting gw bisa pesta bujang semaleman, hahaha.. Eits, jangan mikir yang aneh-aneh dulu, bukan pesta bujang yang aneh-aneh kok, hehe..

Read the rest of this entry ?

h1

My December

1 December 2008

This is my December, this is my time of the year.

This is my December, this is all so clear.

This is my December, this is snow covered home.

This is my December, this is me alone.

Eh, ini mah My December lagunya Linkin Park, kok jadi nyanyi sih gw, hehe..

Lagi iseng aja ga ada kerjaan. Tadi pas ngeliat kalender gw baru nyadar kalo ini uda masuk Desember. Gila, ga kerasa banget ya, kayaknya waktu berjalan cepet banget. Ga kerasa kertas kalender 2008 gw yang tadinya tebel berisi 366 lembar sekarang tinggal 31 lembar. Ga kerasa ampir 1 semester gw duduk di kelas XIA1 dan gw belom dapet ilmu yang jelas. Ga kerasa bentar lagi ulangan umum, dari tanggal 4 Desember-11Desember gw bakal menghadapi hal paling nyebelin bulan ini. Gak kerasa bentar lagi libur tiba, horeee!! (satu-satunya hal yang bikin gw seneng). Gak kerasa promo Speedy gratis 12 jam bentar lagi selesai (oh nooo!!! moga2 diperpanjang). Dan gak kerasa bentar lagi tahun 2009 dateng dan tahun 2008 minggat.

Semua serba ga terasa, tapi mau diapain lagi semua mesti gw rasain dari sedihnya hadepin ulangan umum sampe senengnya libur natal & tahun baru, padahal pengennya cuma ngerasain liburan doank, hehe.. So, this is My December. How about yours?

h1

Inspirative Story

22 November 2008

Ada kegundahan tersendiri yang dirasakan seekor anak katak ketika langit tiba-tiba gelap. “Bu, apa kita akan binasa. Kenapa langit tiba-tiba gelap?” ucap anak katak sambil merangkul erat lengan induknya. Sang ibu menyambut rangkulan itu dengan belaian lembut.

“Anakku,” ucap sang induk kemudian. “Itu bukan pertanda kebinasaan kita. Justru, itu tanda baik.” jelas induk katak sambil terus membelai. Dan anak katak itu pun mulai tenang.

Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba angin bertiup kencang. Daun dan tangkai kering yang berserakan mulai berterbangan. Pepohonan meliuk-liuk dipermainkan angin. Lagi-lagi, suatu pemandangan menakutkan buat si katak kecil. “Ibu, itu apa lagi? Apa itu yang kita tunggu-tunggu?” tanya si anak katak sambil bersembunyi di balik tubuh induknya.

“Anakku. Itu cuma angin,” ucap sang induk tak terpengaruh keadaan. “Itu juga pertanda kalau yang kita tunggu pasti datang!” tambahnya begitu menenangkan. Dan anak katak itu pun mulai tenang. Ia mulai menikmati tiupan angin kencang yang tampak menakutkan.

“Blarrr!!!” suara petir menyambar-nyambar. Kilatan cahaya putih pun kian menjadikan suasana begitu menakutkan. Kali ini, si anak katak tak lagi bisa bilang apa-apa. Ia bukan saja merangkul dan sembunyi di balik tubuh induknya. Tapi juga gemetar. “Buuu, aku sangat takut. Takut sekali!” ucapnya sambil terus memejamkan mata.

“Sabar, anakku!” ucapnya sambil terus membelai. “Itu cuma petir. Itu tanda ketiga kalau yang kita tunggu tak lama lagi datang! Keluarlah. Pandangi tanda-tanda yang tampak menakutkan itu. Bersyukurlah, karena hujan tak lama lagi datang,” ungkap sang induk katak begitu tenang.

Anak katak itu mulai keluar dari balik tubuh induknya. Ia mencoba mendongak, memandangi langit yang hitam, angin yang meliuk-liukkan dahan, dan sambaran petir yang begitu menyilaukan. Tiba-tiba, ia berteriak kencang, “Ibu, hujan datang. Hujan datang! Horeeee!”

***
Anugerah hidup kadang tampil melalui rute yang tidak diinginkan. Ia tidak datang diiringi dengan tiupan seruling merdu. Tidak diantar oleh dayang-dayang nan rupawan. Tidak disegarkan dengan wewangian harum.

Saat itulah, tidak sedikit manusia yang akhirnya dipermainkan keadaan. Persis seperti anak katak yang takut cuma karena langit hitam, angin yang bertiup kencang, dan kilatan petir yang menyilaukan. Padahal, itulah sebenarnya tanda-tanda hujan.

Benar apa yang diucapkan induk katak: jangan takut melangkah, jangan sembunyi dari kenyataan, sabar dan hadapi. Karena hujan yang ditunggu suatu saat pasti akan datang. Bersama kesukaran ada kemudahan. Sekali lagi, bersama kesukaran ada kemudahan.

Semoga Kita Bisa Mengambil Hikmah Dari Cerita Di Atas.

sumber: kaskus